Sabtu, 12 September 2015

h
BODRUM - Tragedi rombongan pengungsi Suriah yang tewas terdampar di pantai Bodrum, Turki, menjadi sorotan dunia. Dalam tragedi yang menyayat hati itu, ada bocah berusia tiga tahun yang kehilangan nyawanya ditemukan di pantai Bodrum.
 Pemandangan miris itu jadi ironi, mengingat pantai Bodrum menjadi salah satu pantai favorit para turis Barat, terutama Inggris untuk berlibur. Insiden itu juga jadi sindiran pedas untuk Perdana Menteri Inggris, David Cameron dan para pemimpin Eropa lainnya yang menolak kedatangan para pengungsi yang putus asa dengan kondisi mengerikan di Suriah.
 Ada 20 pengungsi Suriah yang mengalami musibah di lepas pantai Turki. Dalam perjalanan berbahaya, perahu yang mereka tumpangi terbalik. Dari 20 pengungs itu, 12 di antaranya meninggal. Di antara para korban tewas yang ditemukan terdapat bocah lima tahun, Galip Kurdi dan adiknya Aylan yang berusia tiga tahun, tergeletak tak bernyawa.
 Foto-foto evakuasi bocah-bocah kecil asal Suriah itu menghiasi berbagai media dunia yang menuai empati. Partai Buruh di Inggris memohon PM Cameron agar mengizinkan 10 ribu pengungsi Suriah masuk ke Inggris. Sedangkan Jerman, berencana menyambut 800 ribu pengungsi asal Timur Tengah itu pada tahun ini.
 Menurut Reuters, Kamis (3/9/2015), rombongan pengungsi Suriah itu sedianya menuju ke sebuah pulau di Yunani, namun musibah menggagalkan rencana mereka.
 Mantan sekretaris Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut insiden para pengungsi Suriah itu sebagai tragedi memilukan. “(Memilukan) ketika seorang ibu berupaya mati-matian untuk mencegah bayi mereka agar tidak tenggelam saat perahu mereka terbalik, ketika orang-orang sedang dibiarkan tercekik di punggung truk oleh geng perdagangan manusia dan ketika tubuh anak-anak yang sedang ‘dicuci’ di pantai, saatnya jadi kebutuhan bagi Inggris untuk beraksi,” katanya.
 Politikus Inggris lainnya, Andy Burnham, berpendapa senada. ”Ini adalah krisis kemanusiaan, bukan ketidaknyamanan yang membosankan bagi wisatawan Inggris, sepertinya pemerintah kami mungkin tak percaya. Pemerintah kami tak melakukan apa-apa, selain menyebarkan bahasa manusiawi untuk menggambarkan orang yang putus asa,” katanya.
 Namun, PM Cameron tetap menolak permohonan itu.”Kami telah menerima sejumlah pencari suaka asli dari Suriah, tapi kami pikir hal yang paling penting adalah mencoba untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke wilayah itu. Saya tidak berpikir ada jawaban yang dapat dicapai hanya dengan menerima lebih banyak lagi dari pengungsi.”
"Apa yang tersisa dari peperangan? Tak ada, kecuali kesedihan dan kehancuran."
Tak apa jika tidak sepakat, tapi jawaban seperti apa yang bisa terlontar tentang peperangan setelah melihat kematian dan kesedihan bertebaran di tanah-tanah yang berkonflik itu? Beberapa hari lalu dunia internasional digemparkan oleh sebuah foto yang beredar di dunia maya. Tentang seorang bocah berusia 3 tahun yang ditemukan tewas, terbujur kaku tak bernyawa di tepi pantai di laut Turki. Tak berapa lama kecaman dan simpati publik terdengar dari berbagai sudut. Aylan, bocah berusia 3 tahun ini hanyalah satu dari ratusan bahkan jutaan korban lainnya dari sebuah peperangan yang entah untuk apa dan demi apa.
Seniman dunia turut merespons kehebohan ini. Melalui tangan 'ajaib' mereka menyindir kemanusiaan dunia sekarang ini. Ilustrasi-ilustrasi hasil karya mereka yang terinspirasi dari si malang Aylan dan kawan-kawannya yang lain menyadarkan kita bahwa, jangan-jangan, hari ini, kemanusiaan hanyalah mitos belaka.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar