Sabtu, 26 September 2015

semoga dapat surga Allah ({}):*




1. Saksi Mata Tragedi Mina: Saya Terjebak Paling DepanInformasi mengenai penyebab terjadinya tragedi Mina masih simpang siur. Pemerintah Indonesia pun masih terus menelusuri keberadaan 225 jemaah haji Indonesia yang hilang.
Seorang saksi mata, Apep Wachyudin yang juga menjadi korban tragedi Mina menuturkan, musibah Mina terjadi ketika di pertigaan jalan, petugas keamanan haji Arab Saudi (askar) mengarahkan jemaah haji, termasuk rombongan Apep, belok kiri sehingga harus melintasi Jalan 204 (tempat terjadinya tragedi Mina).
"Katanya kalau ke kanan lebih jauh akhirnya kami ikut jalur itu dan kami berhadapan dengan orang-orang kulit hitam (jemaah asal Afrika). Kemudian di maktab-maktab yang kiri kanannya sudah dikunci, kami menemui stuck karena di depan ada mobil mogok dinaiki orang-orang hitam," ujar Apep saat ditemui wartawan Liputan6.com Wawan Isab Rubiyanto di Maktab 7, Mina Jadid, Jumat 26 September 2015.
Selengkapnya...2. 26-9-1997: Tragedi Garuda dan Teriakan Allahu Akbar Sang PilotHari itu, Jumat 26 September 1997, kawasan Sumatera diliputi kabut asap akibat kebakaran asap, termasuk beberapa wilayah di Sumatera Utara. Kondisi ini membuat penerbangan terganggu. Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 152 bernasib nahas. Airbus A300-B4 celaka di langit Sibolangit saat hendak mendarat, di mana saat itu langit diselimuti kabut asap.
Seperti dilansir Airdisaster.com, pesawat menabrak tebing menancap tebing yang nyaris 90 derajat di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada pukul 13.30 WIB. Garuda tersebut hancur, patah dan terbakar.
Seluruh penumpang berjumlah 222 orang, termasuk 2 jurnalis Liputan6 SCTV, Ferdinandusius dan Yance Iskandar, meregang nyawa. Tercatat pula, penumpang asing asal Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. yang juga 'pergi'. Selain itu, 12 awak pesawat tak ada yang selamat. Sebagian jasad korban yang identitasnya tak dikenali dimakamkan di Monumen Membramo, Medan.
Selengkapnya...3. Marah Dikepung Asap, Singapura Sindir IndonesiaSingapura menyatakan rasa marahnya karena kabut asap tebal menyelimuti negara tersebut sehingga sekolah-sekolah ditutup. Bahkan, pada Jumat pagi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 341, tertinggi sepanjang tahun ini. Indonesia pun dituding tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh warga Singapura.
"Sangat tidak memikirkan keselamatan warga kami dan warga mereka sendiri," ujar Menteri Luar Negeri Singapura K Shanmugam seperti dikutip BBC, Jumat 25 September 2015.
Lewat akun Facebook-nya, Shanmugam mengatakan mendengar pernyataan-pernyataan mengagetkan di tingkat pejabat senior Indonesia.
"Bagaimana bisa, seorang pejabat senior pemerintahan mengeluarkan pernyataan seperti itu, tanpa kesadaran atas nyawa masyarakatnya, atau warga kami, dan tanpa rasa malu, atau rasa tanggung jawab?" ujar dia.
Selengkapnya...4. BMKG: Gempa Yogya Tidak Merusak, Hanya MengagetkanGempa 4,6 SR yang menggoyang Gunungkidul, Yogyakarta, dinilai sebagai lindu menengah. Getarannya dirasakan di sejumlah daerah lantaran pusat gempa berada di darat.


Kepala BMKG DIY Tony Agus Wijaya menyatakan, pusat gempa Yogya berada di 12 km sebelah barat laut Gunungkidul di kedalaman 10 km. Lantaran terjadi di darat, gempa dirasakan di beberapa tempat seperti di Bantul Gunungkidul dan Kota Jogja.
"Kategori termasuk gempa menengah dan agak besar karena berada di darat gempanya. Karena gempanya dangkal sehingga dirasakan di sebagian di DIY seperti Bantul Gunungkidul sebelah timur dan selatan sebagian wilayah kota," ujar Tony di Yogyakarta, Jumat (25/09/2015).
Tony menambahkan, gempa terjadi dalam skala 3 hingga 4 MMI. Sehingga benda-benda di rumah warga hanya terasa bergetar dan tidak merusak.
"Intensitas getaran di masyarakat skala 3-4 MMI jadi benda yang digantung bergoyang. Tetapi karena gempa menengah tidak ada yang merusak hanya merasa dikagetkan," ujar dia.
Selengkapnya...5. 'Berebut' Napas di Tragedi MinaRadhi Hassan tak menyangka mampu melewati masa kritis. Kala itu, Kamis 24 September 2015 ia terkepung oleh ribuan jemaah haji yang akan melempar jumrah di Mina, Mekah, Arab Saudi.
Jemaah dari Irak ini berupaya keras keluar dari kerumunan manusia. "Aku kira aku akan mati. Aku mendorong orang-orang dan berhasil keluar," cerita pria berusia 56 tahun itu seperti dikutip dari The Guardian, Jumat 25 September 2015.
Pagi hari merupakan waktu yang dipilih bagi para jemaah haji seluruh dunia untuk menuju Mina. Itu demi mencegah cuaca panas yang terik saat siang hari.
Dia menuturkan, saat ini ada 160 orang anggota kelompok dalam rombongannya yang masih hilang. Kala insiden terjadi, ribuan jemaah haji tumbang satu per satu ke tanah layaknya domino.
Selengkapnya...




1. Saksi Mata Tragedi Mina: Saya Terjebak Paling DepanInformasi mengenai penyebab terjadinya tragedi Mina masih simpang siur. Pemerintah Indonesia pun masih terus menelusuri keberadaan 225 jemaah haji Indonesia yang hilang.
Seorang saksi mata, Apep Wachyudin yang juga menjadi korban tragedi Mina menuturkan, musibah Mina terjadi ketika di pertigaan jalan, petugas keamanan haji Arab Saudi (askar) mengarahkan jemaah haji, termasuk rombongan Apep, belok kiri sehingga harus melintasi Jalan 204 (tempat terjadinya tragedi Mina).
"Katanya kalau ke kanan lebih jauh akhirnya kami ikut jalur itu dan kami berhadapan dengan orang-orang kulit hitam (jemaah asal Afrika). Kemudian di maktab-maktab yang kiri kanannya sudah dikunci, kami menemui stuck karena di depan ada mobil mogok dinaiki orang-orang hitam," ujar Apep saat ditemui wartawan Liputan6.com Wawan Isab Rubiyanto di Maktab 7, Mina Jadid, Jumat 26 September 2015.
Selengkapnya...2. 26-9-1997: Tragedi Garuda dan Teriakan Allahu Akbar Sang PilotHari itu, Jumat 26 September 1997, kawasan Sumatera diliputi kabut asap akibat kebakaran asap, termasuk beberapa wilayah di Sumatera Utara. Kondisi ini membuat penerbangan terganggu. Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 152 bernasib nahas. Airbus A300-B4 celaka di langit Sibolangit saat hendak mendarat, di mana saat itu langit diselimuti kabut asap.
Seperti dilansir Airdisaster.com, pesawat menabrak tebing menancap tebing yang nyaris 90 derajat di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada pukul 13.30 WIB. Garuda tersebut hancur, patah dan terbakar.
Seluruh penumpang berjumlah 222 orang, termasuk 2 jurnalis Liputan6 SCTV, Ferdinandusius dan Yance Iskandar, meregang nyawa. Tercatat pula, penumpang asing asal Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. yang juga 'pergi'. Selain itu, 12 awak pesawat tak ada yang selamat. Sebagian jasad korban yang identitasnya tak dikenali dimakamkan di Monumen Membramo, Medan.
Selengkapnya...3. Marah Dikepung Asap, Singapura Sindir IndonesiaSingapura menyatakan rasa marahnya karena kabut asap tebal menyelimuti negara tersebut sehingga sekolah-sekolah ditutup. Bahkan, pada Jumat pagi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 341, tertinggi sepanjang tahun ini. Indonesia pun dituding tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh warga Singapura.
"Sangat tidak memikirkan keselamatan warga kami dan warga mereka sendiri," ujar Menteri Luar Negeri Singapura K Shanmugam seperti dikutip BBC, Jumat 25 September 2015.
Lewat akun Facebook-nya, Shanmugam mengatakan mendengar pernyataan-pernyataan mengagetkan di tingkat pejabat senior Indonesia.
"Bagaimana bisa, seorang pejabat senior pemerintahan mengeluarkan pernyataan seperti itu, tanpa kesadaran atas nyawa masyarakatnya, atau warga kami, dan tanpa rasa malu, atau rasa tanggung jawab?" ujar dia.
Selengkapnya...4. BMKG: Gempa Yogya Tidak Merusak, Hanya MengagetkanGempa 4,6 SR yang menggoyang Gunungkidul, Yogyakarta, dinilai sebagai lindu menengah. Getarannya dirasakan di sejumlah daerah lantaran pusat gempa berada di darat.
Kepala BMKG DIY Tony Agus Wijaya menyatakan, pusat gempa Yogya berada di 12 km sebelah barat laut Gunungkidul di kedalaman 10 km. Lantaran terjadi di darat, gempa dirasakan di beberapa tempat seperti di Bantul Gunungkidul dan Kota Jogja.
"Kategori termasuk gempa menengah dan agak besar karena berada di darat gempanya. Karena gempanya dangkal sehingga dirasakan di sebagian di DIY seperti Bantul Gunungkidul sebelah timur dan selatan sebagian wilayah kota," ujar Tony di Yogyakarta, Jumat (25/09/2015).
Tony menambahkan, gempa terjadi dalam skala 3 hingga 4 MMI. Sehingga benda-benda di rumah warga hanya terasa bergetar dan tidak merusak.
"Intensitas getaran di masyarakat skala 3-4 MMI jadi benda yang digantung bergoyang. Tetapi karena gempa menengah tidak ada yang merusak hanya merasa dikagetkan," ujar dia.
Selengkapnya...5. 'Berebut' Napas di Tragedi MinaRadhi Hassan tak menyangka mampu melewati masa kritis. Kala itu, Kamis 24 September 2015 ia terkepung oleh ribuan jemaah haji yang akan melempar jumrah di Mina, Mekah, Arab Saudi.
Jemaah dari Irak ini berupaya keras keluar dari kerumunan manusia. "Aku kira aku akan mati. Aku mendorong orang-orang dan berhasil keluar," cerita pria berusia 56 tahun itu seperti dikutip dari The Guardian, Jumat 25 September 2015.
Pagi hari merupakan waktu yang dipilih bagi para jemaah haji seluruh dunia untuk menuju Mina. Itu demi mencegah cuaca panas yang terik saat siang hari.
Dia menuturkan, saat ini ada 160 orang anggota kelompok dalam rombongannya yang masih hilang. Kala insiden terjadi, ribuan jemaah haji tumbang satu per satu ke tanah layaknya domino.
Selengkapnya...


Sabtu, 12 September 2015

h
BODRUM - Tragedi rombongan pengungsi Suriah yang tewas terdampar di pantai Bodrum, Turki, menjadi sorotan dunia. Dalam tragedi yang menyayat hati itu, ada bocah berusia tiga tahun yang kehilangan nyawanya ditemukan di pantai Bodrum.
 Pemandangan miris itu jadi ironi, mengingat pantai Bodrum menjadi salah satu pantai favorit para turis Barat, terutama Inggris untuk berlibur. Insiden itu juga jadi sindiran pedas untuk Perdana Menteri Inggris, David Cameron dan para pemimpin Eropa lainnya yang menolak kedatangan para pengungsi yang putus asa dengan kondisi mengerikan di Suriah.
 Ada 20 pengungsi Suriah yang mengalami musibah di lepas pantai Turki. Dalam perjalanan berbahaya, perahu yang mereka tumpangi terbalik. Dari 20 pengungs itu, 12 di antaranya meninggal. Di antara para korban tewas yang ditemukan terdapat bocah lima tahun, Galip Kurdi dan adiknya Aylan yang berusia tiga tahun, tergeletak tak bernyawa.
 Foto-foto evakuasi bocah-bocah kecil asal Suriah itu menghiasi berbagai media dunia yang menuai empati. Partai Buruh di Inggris memohon PM Cameron agar mengizinkan 10 ribu pengungsi Suriah masuk ke Inggris. Sedangkan Jerman, berencana menyambut 800 ribu pengungsi asal Timur Tengah itu pada tahun ini.
 Menurut Reuters, Kamis (3/9/2015), rombongan pengungsi Suriah itu sedianya menuju ke sebuah pulau di Yunani, namun musibah menggagalkan rencana mereka.
 Mantan sekretaris Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut insiden para pengungsi Suriah itu sebagai tragedi memilukan. “(Memilukan) ketika seorang ibu berupaya mati-matian untuk mencegah bayi mereka agar tidak tenggelam saat perahu mereka terbalik, ketika orang-orang sedang dibiarkan tercekik di punggung truk oleh geng perdagangan manusia dan ketika tubuh anak-anak yang sedang ‘dicuci’ di pantai, saatnya jadi kebutuhan bagi Inggris untuk beraksi,” katanya.
 Politikus Inggris lainnya, Andy Burnham, berpendapa senada. ”Ini adalah krisis kemanusiaan, bukan ketidaknyamanan yang membosankan bagi wisatawan Inggris, sepertinya pemerintah kami mungkin tak percaya. Pemerintah kami tak melakukan apa-apa, selain menyebarkan bahasa manusiawi untuk menggambarkan orang yang putus asa,” katanya.
 Namun, PM Cameron tetap menolak permohonan itu.”Kami telah menerima sejumlah pencari suaka asli dari Suriah, tapi kami pikir hal yang paling penting adalah mencoba untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke wilayah itu. Saya tidak berpikir ada jawaban yang dapat dicapai hanya dengan menerima lebih banyak lagi dari pengungsi.”
"Apa yang tersisa dari peperangan? Tak ada, kecuali kesedihan dan kehancuran."
Tak apa jika tidak sepakat, tapi jawaban seperti apa yang bisa terlontar tentang peperangan setelah melihat kematian dan kesedihan bertebaran di tanah-tanah yang berkonflik itu? Beberapa hari lalu dunia internasional digemparkan oleh sebuah foto yang beredar di dunia maya. Tentang seorang bocah berusia 3 tahun yang ditemukan tewas, terbujur kaku tak bernyawa di tepi pantai di laut Turki. Tak berapa lama kecaman dan simpati publik terdengar dari berbagai sudut. Aylan, bocah berusia 3 tahun ini hanyalah satu dari ratusan bahkan jutaan korban lainnya dari sebuah peperangan yang entah untuk apa dan demi apa.
Seniman dunia turut merespons kehebohan ini. Melalui tangan 'ajaib' mereka menyindir kemanusiaan dunia sekarang ini. Ilustrasi-ilustrasi hasil karya mereka yang terinspirasi dari si malang Aylan dan kawan-kawannya yang lain menyadarkan kita bahwa, jangan-jangan, hari ini, kemanusiaan hanyalah mitos belaka.




myprofilefacebook :) like (y)



Lirik Lagu "Azalia" by Ali Sastra


Ku lihat bintang-bintang
tersenyum saksikan kau merekah
sang kumbang datang hap.. hap.. hinggap perlahan
bunganya merekah, berkembang-kembang
Warnamu merah, merah
semerah danau di Katumiri 
aku melangkah tu, wa, ga, mendekati
betapa indahnya, ku suka..

Detik-detik waktuku kian berlalu
tak jemu aku memandangnya
detak-detak jantungku, berdenyut s'lalu 
ku jatuh hati memetiknya

Azalia kau bunga yang ku cinta..


Azaliaku.. Azaliaku..
Azalia kau bunga.. yang ku cinta..